POLIKLINIK GIZI

Telah dibuka Poliklinik Gizi bersama dr. Noor Diah Erlinawati, Sp.Gk setiap hari Selasa, Kamis, Jumat, dan Sabtu mulai dari jam 08.00 WIB s/d Selesai. Khusus melayani pasien UMUM

 

 

PEMERIKSAAN KESEHATAN CAKADA BENGKULU DI RSUD dr. M. YUNUS

Hari ini Sabtu 05 Juni 2020 telah dimulai pemeriksaan kesehtan Cakada Bengkulu di RSUD dr. M. Yunus Bengkulu yang diikuti 6 pasang CAKADA. Direktur RSUD dr. M. Yunus Bengkulu, Mengucapkn Terimakasih atas kepercayaan dari KPU dan pihak terkait terhadap RSUD dr, M, Yunus Bengkulu. RSUD dr. M. Yunus akan memberikan pelayanan terbaik berkualitas dan Profesional.

Kepala Perwakilan BPKP: RSUD M.Yunus Dapat Kategori Baik

Bengkulu (8/9).Kepala Perwakilan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Provinsi Bengkulu Bram Rahmana mengatakan, nilai kinerja dari RSUD M.Yunus tergolong cukup bagus. Meskipun ada beberapa aspek kinerja yang perlu mendapatkan perbaikan dan perhatian serius.

“Kesimpulan sementara, menunjukan bahwa nilai kinerja dari Rumah Sakit M.Yunus adalah 60,25 persen, dalam kategori baik,” sebut Bram Rahmana, saat acara rapat hasil evaluasi tata kelola Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) M. Yunus oleh Tim BPKP Provinsi Bengkulu, di Ruang Rapat Raflesia, Kamis (7/9).

Dari sepuluh komponen yang mereka nilai, sebut Bram, ada empat aspek yang perlu mendapatkan perhatian serius, yaitu aspek kebijakan dan prosedur kerja dengan nilai 45,45 persen, sedangkan aspek pengelolaan keuangan mendapatkan skor 38,10 persen saja.

“Kemudian aspek standar pelayanan minimal, yang mungkin paling buruk, yaitu 25 persen, ini nilainya satu dari empat, serta aspek akuntabilitas kerja sekitar 28,57 persen. Semua ini perlu perbaikan-perbaikan serius,” tegasnya.

Disamping itu, Bram berharap agar RSUD M.Yunus dapat dibentuk kembali Dewan Pengawas, karena hal tersebut sesaui aturan yang ada, agar direksi tidak bekerja sendiri serta Dewan Pengawas dapat mengkoreksi kinerja dari Direksi.

“Tiga elemen dari BLUD yaitu pemilik, pengawas dan direksi, harus mengambil perannya masing-masing dan direksi perlu Dewan Pengawas agar kinerjanya menjadi lebih baik,” kata Bram.

Sementara itu, Pemda Provinsi Bengkulu berharap Rumah Sakit Umum M. Yunus Bengkulu dapat meningkatkan pelayanannya, serta menjadi salah satu rumah sakit kebanggaan Provinsi Bengkulu.

Hal itu di sampaikan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Rohidin Mersyah yang diwakili oleh Sekda Provinsi Bengkulu Gotri Suyanto, saat membuka acara Rapat tersebut.

“Esensi dari BLUD adalah meningkatkan pelayanan dan efesiensi anggaran. Saya berharap rumah sakit kita ini dapat meningkatkan mutu serta menjangkau seluruh lapisan masyarakat Bengkulu,” kata Gotri Suyanto, membacakan kata sambutan Plt Gubernur.

Karena, kata Gotri lagi, jika Rumah Sakit Daerah tidak dapat meningkatkan pelayanannya, maka, akan ketinggalan dan kalah bersaing dengan rumah sakit lainnya.

“Pemda Provinsi berharap adanya komitmen bersama untuk meningkatkan pelayanannya,” ujar Gotri.

Untuk itulah, sebut Gotri, rapat hasil evaluasi kinerja ini diharapkan dapat menghasilkan suatu rumusan guna perbaikan kedepannya.

Ditambahkan Gotri, Kinerja dari RSUD ini memang perlu adanya dewan pengawas. Apalagi saat ini RSUD M.Yunus masih belum ada dewan pengawasnya.

Untuk itu, sambung Gotri, pemda Provinsi akan mengusulkan kembali Dewan Pengawas tersebut, agar dapat memberikan arahan dan pengawasan pada kinerja RSUD tersebut.

Rapat ini juga dihadiri oleh Direktur RSUD M.Yunus Bengkulu beserta jajarannya, serta Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu. (Saipul-Media Center Pemprov Bengkulu)

59 tenaga medis termasuk juga dokter di RSUD M Yunus Bengkulu dikarantina

Bengkulu (ANTARA) – Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) M Yunus Bengkulu, Zulkimaulub Ritonga menyebut sebanyak 59 tenaga medis termasuk dokter yang bekerja di rumah sakit itu saat ini sedang menjalani karantina setelah diduga terpapar pasien positif COVID-19.

Kata Zulkimaulub dari 59 tenaga medis itu tujuh orang diantaranya merupakan dokter umum, enam orang dokter spesialis dan sisanya adalah perawat dan tenaga medis lainnya.

“Sekarang 59 tenaga medis sedang menjalani karantina. Sebanyak 41 orang menjalani karantina dengan pengawasan dan sisanya melakukan karantina mandiri di rumah masing-masing karena mereka sudah tahu prosedurnya,” kata Zulkimaulub di Bengkulu, Sabtu.

Sebanyak 59 tenaga medis ini diduga melakukan kontak erat dengan dua pasien konfirmasi positif COVID-19 yang merupakan perawat RSUD M Yunus Bengkulu.

Selama ini mereka bekerja di ruang lingkup yang sama dan menangani pasien COVID-19 di ruang isolasi RSUD M Yunus Bengkulu.

Setelah dinyatakan terkonfirmasi positif COVID-19, kedua perawat itu menjalani perawatan di ruang isolasi RSUD M Yunus Bengkulu yang merupakan rumah sakit rujukan penanganan pasien yang terpapar virus korona jenis baru.

Zulkimaulub mengaku dikarantinanya 59 orang tenaga medis selama 14 hari ke depan berdampak pada pelayanan kesehatan di rumah sakit tersebut.

Pihak rumah sakit, kata dia, terpaksa melakukan modifikasi agar pelayanan di rumah sakit itu tetap berjalan baik sehingga masyarakat yang berobat tetap bisa dilayani dengan baik.

Modifikasi pelayanan ini dilakukan hingga hasil swab atas 59 tenaga medis tersebut keluar.

“Modifikasi kita lakukan hanya untuk pelayanan yang sifatnya emergensi, sedangkan untuk poli yang hanya memiliki satu dokter dan dokternya dikarantina maka dialihkan ke poli yang serumpun sehingga masih bisa dilakukan pelayanan,” demikian Zulkimaulub.*

RSUD M Yunus Bengkulu Perketat SOP Pelayanan

Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) M. Yunus Bengkulu Zulkimaulub Ritonga menjelaskan bahwa pasca ditetapkannya RSUD M. Yunus sebagai kluster ketiga, upaya pihak rumah sakit lakukan membuat perubahan SOP terutama dalam alur pasien dan petugas kesehatan.

“Selain itu kita melakukan perubahan pengawasan terhadap penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) mulai dari memasang hingga membukanya. Dan juga khusus untuk petugas, kita sudah mengurangi jumlah yang masuk ke RSUD M. Yunus. Dengan demikian kita tidak menemukan lagi penyebaran horizontal antara petugas satu dengan yang lainnya,” ungkap Zulkimaulub.

Zulkimaulub juga menambahkan untuk mengantisipasi keamanan petugas kesehatan dilakukan dengan mengurangi jumlah volume pelayanan rumah sakit. Hal ini diharapkan dapat nantinya menjaga petugas kesehatan dari Orang Tanpa Gejala (OTG) yang masuk ke rumah sakit itu sendiri.

“Dengan perubahan ini, kita berharap agar petugas kesehatan kita bisa bertahan menjalankan tugas selama pandemi ini. Namun apabila tidak kita lakukan modifikasi ini, yang kita takutkan malah akan terjadi penularan secara massal sehingga lumpuh pelayanan rumah sakit kita sebagai rujukan covid-19 di Provinsi Bengkulu,” katanya.

Untuk diketahui, saat ini RSUD M. Yunus sudah menyiapkan langkah-langkah yang akan dilakukan terhadap tenaga kesehatan yang dinyatakan positif Covid-19 kemarin. Seperti melakukan rapid test dan swab kepada seluruh keluarga pasien tidak terkecuali orang yang berkontak langsung kepada pasien Covid-19.

“Sesegera mungkin akan kita lakukan rapid test dan swab. InsyaAllah besok tim kita akan bergerak menemui keluarga pasien dan orang yang pernah kontak langsung dengan tenaga kesehatan kita yang positif covid-19 ini,” tutup Zulkimaulub.

Sebagai penambahan informasi, untuk masyarakat yang melakukan layanan kesehatan khusus seperti layanan kemoterapi, pihak RSUD M. Yunus akan membagi waktu layanan dikarenakan tidak memungkinkannya dilakukan konsultasi kesehatan satu minggu full dan pelayanan ini akan dikurangi menjadi tiga hari dalam seminggu.(Rls/Red)

Sumber : bengkulunews.co.id

RSUD M. Yunus Siapkan Ruang Isolasi Representatif untuk Pasien Covid-19

Bengkuluprov – Kesiapan RSUD M. Yunus Bengkulu menangani pasien Covid-19 semakin mantap. Hal itu dibuktikan dengan tersedianya fasilitas yang lengkap dan representatif berupa ruang isolasi khusus di Instalasi Rawat Inap (Irna) Fatmawati.

Dijelaskan Direktur RSUD M. Yunus Bengkulu Zulkimaulub Ritonga, ruang perawatan pasien Covid-19 yang difungsikan, berada pada lantai dasar IRNA Fatmawati, dengan total 11 kamar dilengkapi dengan instalasi alat kesehatan standar penanganan Covid-19.

“Sekarang ini ada 11 kamar yang mampu menampung 22 pasien, dalam satu kamar tersedia dua tempat tidur. Dari 11 kamar itu dua diantaranya khusus ruang bersalin dan ruang perawatan bayi, fasilitasnya juga lengkap ada inkubator maupun alat bantu pernafasan,” jelas Zulkimaulub.

Disiapkannya ruang isolasi ini khusus Covid-19, mengingat ruang perawatan kurang representatif, baik untuk pasien maupun tenaga medis yang akan melakukan tugas sebagai garda terdepan.

“Ruangan sudah siap, kami akan segera memindahkan pasien ke ruangan ini, mungkin pemindahannya akan kami lakukan besok (21/4 – red). Ada dua pasien yang akan dipindahkan ke sini,” tambah Zulkimaulub.

Selain menyiapkan ruangan isolasi bagi warga terjangkit Covid-19, pihak rumah sakit juga menyiagakan tenaga medis.

Sementara, Kepala Ruangan Perawatan Isolasi Irna Fatnawati, Desi Asmita menjelaskan, perawatan isolasi ditangani oleh Tim Gerak Cepat yang terdiri dari dokter penanggungjawab pasien dan perawat berjumlah 17 orang yang bertugas dengan sistem bergantian.

“Untuk dokter penanggungjawab pasien Corona itu sesuai spesialisnya, kalau misalnya pasien ada pengaruh ke paru-paru berarti dokter spesialis paru-paru sebagai penanggungjawab pasien tersebut,” demikian Desi. (MC diskominfotikprovbkl)